Lagu Lama
Lagu lama kembali terulang, lewat informasi dari rekan-rekan Kepak Garuda, dengan mudah terlacak gambar-gambar milik Kepak Garuda yang digunakan tanpa izin dari Kepak Garuda. Sesuai dengan komitmen kami, sejauh ini kami belum merasa perlu untuk masuk ke ranah komersil, mengkomersilkan karya-karya Kepak Garuda. Bila memang digunakan untu kepentingan sosial (ataupun negara) ayo silakan duduk bersama kita diskusikan.
Terima kasih untuk rekan-rekan (Mas Putra & Mas Aries) yang terus menyampaikan informasi mengenai keberadaan gambar-gambar Kepak Garuda yang dimanfaatkan tak seizin dari kami. Dan kini mohon bantuan rekan-rekan untuk menyebarluaskan informasi terkait lewat jaringan social media masing-masing, sebagai bentuk pembelajaran dari penghargaan atas karya cipta.
Berikut visual yang menggunakan karya Kepak Garuda tanpa seizin kami:

Sumber gambar: http://marketing.sctv.co.id

FOTO ANTARA/Yudhi Mahatma/ http://www.antarafoto.com/seni-budaya/v1325296601/aksi-sawung-jabo
Munir

Selasa, 7 September 2004. Dua jam sebelum pesawat Garuda Indonesia GA 974 mendarat di Bandar Udara Schiphol Amsterdam Belanda, Munir Said Thalib (38) meregang nyawa, 20.000 kaki di atas Rumania. Munir diracun. Munir dibunuh. Sejak hari itu, sejarah negeri ini teruji.
Susilo Bambang Yudhoyono–yang saat itu sudah dicanangkan menjadi calon presiden dari Partai Demokrat–menghentikan sejenak dialog bertajuk “Indonesia untuk Semua”, dan mengajak seluruh peserta dialog mengheningkan cipta selama satu menit ketika mendengar berita tentang tewasnya Munir. Kemudian, ketika menjabat sebagai presiden pada periode pertama, Yudhoyono menyatakan, kasus pembunuhan terhadap Munir–aktivis HAM–merupakan ujian akan sejarah bangsa ini dalam menghormati Hak Asasi Manusia. Namun, hampir sewindu sudah berlalu, pernyataan Sang Presiden ini belum menunjukkan tanda-tanda baik. Munir dibunuh tanpa pembunuh.
Menjelang peringatan 7 tahun terbunuhnya Munir, pada 17 Agustus 2011, pemerintahan SBY justru memberikan remisi 9 bulan 5 hari kepada Pollycarpus Budihari Priyanto, terpidana 20 tahun dalam kasus Pembunuhan Munir. Remisi itu diberikan dalam rangka HUT RI ke-66 tahun. Pada 1 Agustus 2011 lalu, Polly juga resmi mengajukan peninjauan kembali atas putusan PK yang diajukan jaksa penuntut umum terhadapnya. Sebelumnya, PK tersebut diajukan jaksa setelah Polly, bebas berkat putusan Mahkamah Agung mengabulkan permohononan kasasinya. Sejauh ini, Polly yang mantan pilot Garuda Indonesia itu adalah satu-satunya terpidana dalam delik pembunuhan Munir. Sementara, banyak kalangan menyakini, pembunuhan Munir merupakan operasi intelijen yang melibatkan banyak pihak.
Munir tewas dalam perjalanan Jakarta – Amsterdam. Ketika itu, ayah dari Soultan Alif Allende (13) dan Diva Suu Kyi Larasati (9) ini hendak melanjutkan studi International Protection on Human Right di Universitas Utrecht. Dalam suatu acara makan siang di Kantor Imparsial di Jalan Diponegoro, Jakarta, Munir bahkan sempat mengutarakan harapannya untuk mengambil program doktor sekaligus meskipun beasiswa yang diperolehnya saat itu hanya untuk program master. Semua cita-citanya ini kandas oleh racun arsenik yang disusupkan ke tubuhnya oleh para pembunuh.
Di masa hidupnya, Munir pernah meraih The Right Livelihood Award dari Yayasan Livelihood Award Jakob von Uexull, Stockholm, Swedia (2000), dan pernah dinobatkan majalah Asiaweek sebagai salah satu dari 20 Pemimpin Politik Muda Asia pada Milenium Baru (1999). Namanya mendunia. Meski begitu, pribadi yang sederhana ini mengaku bukanlah orang yang pemberani. Padahal, teror demi teror tak pernah sepi dari kehidupannya, mewarnai aktivismenya dalam memperjuangkan HAM. Munir bahkan pernah berkata, Suciwati, istrinya lah yang sebenarnya jauh lebih pemberani ketimbang dirinya. Hingga kini, Suciwati inilah–bersama rekan-rekan Munir–yang masih terus berjuang mendesak pemerintah untuk menuntaskan pembongkaran kasus pembunuhan Munir.
Menjelang pemilihan umum presiden tanggal 5 Juli 2004, publik sempat dikejutkan oleh tampilnya Munir sebagai juru kampanye Amien Rais, calon presiden dari Partai Amanat Nasional, di televisi. Meski cukup diprotes banyak pihak kala itu, Munir punya alasan. Munir mengatakan, langkah politiknya itu diambil untuk menyelamatkan bayi demokrasi yang terancam. “Saya mendukung calon presiden yang paling kecil destruksinya terhadap demokrasi,” ujarnya (Kompas, 8 September 2004).
Bagaimanapun, Munir adalah sosok kerempeng yang sempat menggoyahkan institusi tentara di era Orde Baru, ketika sejumlah aktivis hilang diculik. Munir “membebaskan” mereka. Dia dijuluki pahlawan orang hilang. Namun, pada akhirnya nyawanya sendiri yang hilang. Meninggalkan ujian sejarah yang pelik bagi negara dan bangsanya.
Sumber: dicuplik dari berbagai artikel di Harian Kompas, September 2004
Koleksi Wallpaper Kepak Garuda
Dirgahayu Republik Indonesia
![]()
Selamat HUT Kemerdekaan Republik Indonesia.
“Negeri untuk semua, semua untuk negeri”
Berkarya dan bekerja dalam keterkaitan memperjuangkan profesi dan keilmuan yang kita miliki tentulah menjadi kewajiban dari tiap individu. Keberadaan yang strategis di antara industri-industri lain juga harus dipikirkan dan teramat layak untuk diperjuangkan. Kontribusi positif dari pemerintah tentu juga yang selalu dinanti. Lewat aktivitas berbasis sosial dengan menggunakan kendaraan profesi serta keilmuan akan membawa ke tingkat kemanfaatan yang lebih baik, masyarakat akan mendapatkan manfaat yang positif, menaikkan nilai profesi dan keilmuan yang kita miliki, kuatnya komuniti akan berdampak kepada iklim usaha serta proses kaderisasi di ranah akademis yang akan senantiasa mendekat pada titik ideal.
Sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Muhammad Yunus, “Bisnis-bisnis sosial memberi setiap orang kesempatan untuk berperan serta dalam menciptakan macam dunia yang ingin kita lihat. Berkat konsep bisnis sosial, masyarakat tidak harus menyerahkan semua masalah ke tangan pemerintah (dan selanjutnya menghabiskan umur mereka untuk mencela pemerintah karena gagal memecahkan masalah-masalah).” (Muhammad Yunus, 2011: xxx).
Inginkah kita menghabiskan umur untuk mencela, mengumpat dan berkeluh saja? Ayo berkarya dan bekerja sesuai ilmu dan profesi yang dimiliki, karena itu bentuk senyata-nyatanya dalam mengartikan kemerdekaan!
Ada Sejak 1945
![]()
“Republik Indonesia” sebuah kesepakatan atas keberadaan, pilihan, sikap dan rasa kebersamaan. Hadir secara administratif 66 tahun yang lalu, dan bersepakat akan senantiasa ada sampai kapanpun jua!

























