Haji Agus Salim

The Grand Old Man, julukan yang tersemat pada lelaki berbadan kecil ini, sebagai bentuk pengakuan atas kemampuan luar biasa yang dimilikinya di dunia diplomatik.

Seorang poligot yang fasih menguasai bahasa Arab, Belanda, Inggris, Turki, Perancis, Jepang dan Jerman. Mantan anggota Volksraad (Dewan Perwakilan Rakyat era Hindia Belanda). Anggota panitia 9 BPUPKI yang mempersiapkan dasar negara Undang-undang Dasar 1945. Berkali-kali menjabat sebagai menteri luar negeri.

Namun dengan segala kesederhanaannya, hingga akhir hayatnya Haji Agus Salim tetap memilih untuk hidup berpindah-pindah dari rumah kontrakan yang satu dengan yang lainnya.

Klik link di bawah ini untuk mendapatkan wallpaper yang sesuai dengan monitor anda:

Continue reading

Cover Facebook Munir

Setahun berlalu semenjak kami membuat wallpaper Munir – Dibunuh tanpa pembunuh? Berarti setahun pula kasus Munir tak beranjak, jalan di tempat, tetap gelap gulita. Beri dukungan selalu untuk “Menolak Lupa” atas kasus tersebut dengan memasang gambar Munir sebagai cover-photo Facebook Anda!

Klik pada gambar yang Anda pilihbrowser akan membuka tab/halaman baru yang menampilkan gambar seukuran cover-photo Facebook (851 x 315px). Silakan mengunduhnya ke komputer Anda, lalu ganti cover-photo Facebook Anda!

Munir

Selasa, 7 September 2004. Dua jam sebelum pesawat Garuda Indonesia GA 974 mendarat di Bandar Udara Schiphol Amsterdam Belanda, Munir Said Thalib (38) meregang nyawa, 20.000 kaki di atas Rumania. Munir diracun. Munir dibunuh. Sejak hari itu, sejarah negeri ini teruji.

Susilo Bambang Yudhoyono–yang saat itu sudah dicanangkan menjadi calon presiden dari Partai Demokrat–menghentikan sejenak dialog bertajuk “Indonesia untuk Semua”, dan mengajak seluruh peserta dialog mengheningkan cipta selama satu menit ketika mendengar berita tentang tewasnya Munir. Kemudian, ketika menjabat sebagai presiden pada periode pertama, Yudhoyono menyatakan, kasus pembunuhan terhadap Munir–aktivis HAM–merupakan ujian akan sejarah bangsa ini dalam menghormati Hak Asasi Manusia. Namun, hampir sewindu sudah berlalu, pernyataan Sang Presiden ini belum menunjukkan tanda-tanda baik. Munir dibunuh tanpa pembunuh.

Menjelang peringatan 7 tahun terbunuhnya Munir, pada 17 Agustus 2011, pemerintahan SBY justru memberikan remisi 9 bulan 5 hari kepada Pollycarpus Budihari Priyanto, terpidana 20 tahun dalam kasus Pembunuhan Munir. Remisi itu diberikan dalam rangka HUT RI ke-66 tahun. Pada 1 Agustus 2011 lalu, Polly juga resmi mengajukan peninjauan kembali atas putusan PK yang diajukan jaksa penuntut umum terhadapnya. Sebelumnya, PK tersebut diajukan jaksa setelah Polly, bebas berkat putusan Mahkamah Agung mengabulkan permohononan kasasinya. Sejauh ini, Polly yang mantan pilot Garuda Indonesia itu adalah satu-satunya terpidana dalam delik pembunuhan Munir. Sementara, banyak kalangan menyakini, pembunuhan Munir merupakan operasi intelijen yang melibatkan banyak pihak.

Munir tewas dalam perjalanan Jakarta – Amsterdam. Ketika itu, ayah dari Soultan Alif Allende (13) dan Diva Suu Kyi Larasati (9) ini hendak melanjutkan studi International Protection on Human Right di Universitas Utrecht. Dalam suatu acara makan siang di Kantor Imparsial di Jalan Diponegoro, Jakarta, Munir bahkan sempat mengutarakan harapannya untuk mengambil program doktor sekaligus meskipun beasiswa yang diperolehnya saat itu hanya untuk program master. Semua cita-citanya ini kandas oleh racun arsenik yang disusupkan ke tubuhnya oleh para pembunuh.

Di masa hidupnya, Munir pernah meraih The Right Livelihood Award dari Yayasan Livelihood Award Jakob von Uexull, Stockholm, Swedia (2000), dan pernah dinobatkan majalah Asiaweek sebagai salah satu dari 20 Pemimpin Politik Muda Asia pada Milenium Baru (1999). Namanya mendunia. Meski begitu, pribadi yang sederhana ini mengaku bukanlah orang yang pemberani. Padahal, teror demi teror tak pernah sepi dari kehidupannya, mewarnai aktivismenya dalam memperjuangkan HAM. Munir bahkan pernah berkata, Suciwati, istrinya lah yang sebenarnya jauh lebih pemberani ketimbang dirinya. Hingga kini, Suciwati inilah–bersama rekan-rekan Munir–yang masih terus berjuang mendesak pemerintah untuk menuntaskan pembongkaran kasus pembunuhan Munir.

Menjelang pemilihan umum presiden tanggal 5 Juli 2004, publik sempat dikejutkan oleh tampilnya Munir sebagai juru kampanye Amien Rais, calon presiden dari Partai Amanat Nasional, di televisi. Meski cukup diprotes banyak pihak kala itu, Munir punya alasan. Munir mengatakan, langkah politiknya itu diambil untuk menyelamatkan bayi demokrasi yang terancam. “Saya mendukung calon presiden yang paling kecil destruksinya terhadap demokrasi,” ujarnya (Kompas, 8 September 2004).

Bagaimanapun, Munir adalah sosok kerempeng yang sempat menggoyahkan institusi tentara di era Orde Baru, ketika sejumlah aktivis hilang diculik. Munir “membebaskan” mereka. Dia dijuluki pahlawan orang hilang. Namun, pada akhirnya nyawanya sendiri yang hilang. Meninggalkan ujian sejarah yang pelik bagi negara dan bangsanya.

Sumber: dicuplik dari berbagai artikel di Harian Kompas, September 2004

Continue reading